Thursday, 31 May 2018

Kecapi

Hai kecapi
Dawaimu kurindu
Alunan guyonmu memandu
Seisi kepalaku menari dalam kotak dadu
Ke manakah rimamu yang dulu?

Hai Serunai
mari tiupkan lagi nada asa
Untuk kita berdiri dan menantang masa
Biarkan kepalan tangan ini meninju lusa
Agar esokpun takut pada keberanian rasa

Hai Stradivarius
Lumatkan gesekan rimamu
Biarkan tali egomu putus oleh rasa linu
Beberkan pada dunia asap Semeru
Yg tingginya berasal dari dari dasar perut ibumu

Sorong, 19 Mei 2018

Abdurrahman Hasan 

Kau Yang Kupanggil KESAN


Entah apa yg terjadi kali pertama bersua
Tiba saja hati menyimpulkan kesan
Yang menulis kisah ke depan
Yang akan kita tinggalkan

Kesan pertama bahwa permulaan ini
Seperti tidak akan berakhir di sini
Apalagi di sana yg tak jelas rimbanya
Tapi terkisah dalam kitab kita begini adanya

Kesan kedua bahwa hukum bertemu dan berpisah
Seakan bukan hukum alam kita
Apalagi alur yg kita susun begitu kuat merekat
Tapi rekatan Tuhan jauh lebih kuat

Kesan kesan berikutnya
Hanyalah tinggal pesan untuk sesama
Bahwa yang lama jangan dilupakan
Apalagi ditinggalkan dalam kesendirian

Bila hari itu datang
Kisah itu takkan lagi menentang
Sebab jiwa kita hanya tinggal sisa sisa
Dan kau yg kupanggil KESAN bermuara pada tak kuasa


Abdurrahman Hasan 

Bangsa Si Anak Manja


Ada yg nihil dari jiwa bangsa ini
Nihil kekuatan kedewasaan dan ketangguhan
Mentalnya kini semakin kanak kanak
Saat usia semakin besar dan tua

Di bangsa ini engkau tak boleh berkata kasar
Meski kasarmu bernada kritis
Sebab engkau akan membuat si anak sedih
Lalu kau akan dilaporkan ke bapak dan ditangkap

Di bangsa ini engkau harus hati hati membeli baju
Jika baju bertulis #2019_ganti_bapak
Maka akan ada anak bapak yg cemburu
Lalu kau dilaporkan dan ditangkap

Di bangsa ini yg boleh manja manja hanya anak bapak saja
Jika kau yg bukan anaknya merengek minta makan
Maka kau akan disuruh tanam padi, ubi dan sawi
Lalu setelah itu alat berat yg akan membajaki

Di bangsa ini kalau yg bukan anak bapak minta ikan
Maka akan dikasih pancingan harapan
Jika ada yang minta uang
Maka akan dikasih kalajengking

Yang boleh manja manja hanya anak bapak
Sebab bangsa ini milik anak dan bapaknya
Kalau anaknya malas maka bapak akan panggil pembantu asing
Memijat menjilat menyuap menguap memeluk dan dipeluk

Pembantu pembantu dari luar rumah
Semakin banyak memenuhi rumah
Ganteng ganteng dan cantik
Kulit putih berkelopak sipit kadang lentik

Mereka datang untuk Nina bobokan anak bapak
Supaya anak tenang dan bapak senang
Lalu pembantu berenang
Di kolam dan danau uang setelah itu menang

Abdurrahman Hasan

Apakah Ini Matahari Yang Sama?


Lampu dikamarku padam
Bukan aku yg memadamkannya
Tapi waktu, iya usianya telah termakan waktu
Hmm, cuma apakah sepenuhnya salah waktu?
Bukankah kalau lampu itu bukan buatan China
tentunya dia agak lama? Itu hukum pasar

Tapi apakah itu Salah Asal muasalnya?
Ataukah salah saya yg tak bisa membuat satu seperti itu?
Atau mungkin salah saya yg tidak mampu mendatangkan merk aslinya dg harga semurah merk Ta' Kashi Murah?

Entahlah
Tapi aku masih bertanya tanya
matahari yg hari ini apakah ia yg kemarin?
Sementara namanya terus berubah
Kalaupun sama mengapa kehangatannya terus berubah?

Atau apakah cuma di negeriku saja yg suhu mataharinya akan memanas setiap mendekati hari hari pemilu?
Ia juga sangat mempengaruhi suhu tubuh dan perasaan

Gelap kamarku ini tentunya bukan salah matahari
Ini mungkin salah mataku yg tak mampu Mandang cahaya matahari
Dan sepertinya karena terlalu lama gelap
aku baru sadar ternyata tetanggaku banyak yg orang lain

Dan matahari itu tetap sama, yg beda adalah mataku dan mata tetanggaku
Mataku baru bisa sipit saat melihat matahari. Tapi mata mereka terus sipit kapan saja.
Dan mata itu semakin banyak.

Aku tidak suka mereka, mereka tidak pernah mampu melihat gelapnya kamarku.
Beda dgn tetanggaku yg dulu.
Saat aku ingin pindah ke Mikarta yg lebih terang. Ternyata itu negeri mereka meski berada di Tanahku.

Ah... Seandainya lampu di negeriku
Gratis seperti cahaya matahari
Tentunya kamarku tak akan segelap ini
Ataukah kalau ada bagi bagi cahaya saat pemilu
Masyarakat tentu tak akan mencoblos dalam bilik yg pekat pilu
Tapi, ada banyak KTP yg tidak bertuan
Katanya salah saat percetakan
Mungkin ini akibat dari mati lampu di kamarku

Tapi Alhamdulillah saat ini sudah banyak jalan yg terbuka
Meski dapur dapur semakin murka
Banyak perut yg tak lagi lapar
Karena minum racun kalajengking lalu terkapar
Banyak sawah yang dipenuhi sawi
Karena atas dasar instruksi
Banyak pegawai yg naik gaji
Karena tahun ini negeriku lagi baik hati
Meski korban begal harus jadi saksi lalu disangsi
Saya tetap berharap kepada sang matahari
Agar tetap menyinari meski banyak lampu yg mati


Abdurrahman Hasan

Sunday, 8 April 2018

WANITA BERLISAN IBLIS

Sukma...
Begitulah namamu
Terdengar suci nan elok
Tapi sayang, tidak untuk lisanmu

Sukma...
Wanita tua, bersanggul lebar
Beralis mata palsu
Tutupi keriput di pipi

Sukma...
Katamu seniman dan budayawati
Sukanya aurat tergerai yang katanya suci
Ketimbang cadar pembungkus aurat yang sebenarnya lebih mulia nan suci

Sukma...
Katamu juga seorang muslimah
Tapi tak tahu syariat sang pencipta
Suara kidung ibu indonesia
Bagimu sangatlah indah
Melebihi lantunan ayat sang maha cipta
Yang terlebih dahulu bergema sebelum adanya indonesia merdeka

Sukma...
Katamu paham akan budaya dan keragaman
Menjunjung tinggi bineka tunggal ika
Tapi tak tahu cara menghormati umat beragama
Sepertinya kau miskin agama

Sukma...
Banggamu pada ibu indonesia
Tapi tak tahu jati diri ibu sesungguhnya
Suci luhur nan mulia
Tidak seperti kau
Yang berlisan iblis durjana

Sukma...
Katamu puteri sang revolusioner
Lahir dari kandung ibu pertiwi
Tapi buruk budi pekerti
Kau tak pantas di bumi pertiwi

Lantas
Dimanakah tempatmu sesungguhnya?
Neraka jahanam jawabanku


Bau-bau,
Kamis, 5 April 2018
Iin Faradilla