Monday, 2 April 2018

Al-islamu ya'lu wala yu'la 'alaihi


Kau tinggi
Tak ada yg melebihi tinggimu
Kau tinggi 
Meski ada yg merendahkanmu
Bahkan kau semakin tinggi
Saat ada yg hendak menjatuhkanmu
Mereka tau
Bahwa tinggmu tak mampu mereka raih
Hingga mereka hanya berkutat dalam kubang hina dina
Menghinamu mendinamu
Sejatinya semua itu tak sampai padamu
Hanya akan melayang di awang mereka
Lalu jatuh menimpali wajah dan otak mereka
Bersih suci
Mulia dan selamat
Yg mendekat padamu akan bersiih
Yang mencintaimu akan suci
Yang berpegang kepadamu akan mulia
Yang tetap bersamamu hingga akhir akan selamat
Kau tinggi wahai Sang Langit
Hanya kau dari sisiNya
Yang lain adalah dari akal mereka yg tumpul dan dengkul
Yang lain hanya sebutan mereka
Mencoba mengejarmu namun tak mampu
Mereka sudah bosan menghinamu
Namun tak mendapatimu terhina
Mereka muak ingin menajiskanmu
Namun mendapatimu tetap suci murni
Sebab kau tinggi
Tinggi
Tinggi sekali
Lagu lagu mereka
Menjatuhkannya dalam lumpur
Puisis puisis mereka
Menutup rapat mereka
Hingga terus terjerumus dalam lumpur
Tak mampu balik hingga selamanya tersungkur
Di antara manusia lain dan batu batu yg terbakar

Abdurrahman Hasan

Monday, 26 March 2018

Pancasila Sakti Mandraguna

Ayahku pernah cerita
Engkau adalah dasar lima
Yang Sakti mandraguna
Itu dulu katanya
Kini kau lemah tiada daya
Bukan karena kau sedang meregang nyawa
Tapi banyak yg menangis karena upaya
Menyelamatkanmu dari tipu daya
Entah engkau yg tertipu atau mereka
Tapi lihatlah bahu bahu tempat bersandar ria
Harus tersengat mentari yg sedang tertawa
Sebab ironi dengan sendawa sendawa
Entah kau yang sakit atau mereka
Aku merasa kau baik baik saja
Tapi lihatlah lutut lutut abdi negara
Harus bergetar menahan letih sepi makna
Pancasila
Kau tetaplah dasar yang lima
Jika empat bukanlah kau rupanya
Cuma banyak dari hamba hamba
Yg karena menghamba empatpun mereka suka
Ketuhanan Yang maha esa
Tapi keuangan menjadi raja yg esa
Banyak penyembah penyembah merasa
Sila pertama hanyalah simbol semata
Kemanusiaan yg adil dan beradab
Orang bilang negaraku banyak pengadilan
Tapi sulit kutemukan keadilan
Mungkin mereka sedang pesta bersama Dilan
Memperagakan kamera kamera peradaban
Persatuan Indonesia
Ini yang lebih berbahaya
Sebab upaya bersatu dari warga
Dianggap mencoba keluar dari satu bangsa
Lalu apa persatuan sebenarnya?
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawatan perwakilan
Bijak dari sosok yg diimpikan
Kini benar benar hanya mimpi saat ketiduran
Kala aku bangun untuk bermusyawah
Solusi telah terbentang bak ladang sawah
Luas melintang manjakan mata
Meski dipan kami semakin sempit terhimpit kata

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Lagi lagi atas nama rakyat Indonesia
Bahkan pembual pembohong penjilat semuanya
Demi perut mereka yg semakin dekat pusara
Memakai jargon ini untuk terus berpura pura
Hingga kepala dan pantat bersatu dalam tanah

Abdurrahman Hasan
Makassar, Maret 2018

Tolong

Jangan hadir dalam mimpiku
Kamu tau aku takkan bisa bangun lagi
Jangan beri aku mimpi senyumanmu
Kamu tau setelah kampanye kau akan pergi
Tolong..
Jangan bilang cinta padaku
Aku tau itu dari lidahmu bukan hatimu
Jangan bilang kau terpilih untukku
Aku tau bahkan perutmu takkan pernah penuh
Tolong..
Jangan sebut sebut namaku
Tuhan tau hatimu tidak melakukannya
Masalahmu jangan atas namakan aku
Semesta tau baik dan rusakmu
Tolong ...
Buka kan aku pintu
Aku ingin keluar dari belaian rayuanmu
Biarkan  lain yang memilih
Aku cukup dengan sakit yg dulu kupilih

Abdurrahman Hassan

Monday, 12 March 2018

Aku Akan Pulang

Aku akan pulang
Jangan khawatir sayang
Rindu ini masih bersarang
Tepat di hati
Lelakimu yg telah membuatmu menanti

Pesanmu untuk ku kembali
Masih tersimpan rapih dan kendali
Peta hidup yg kita gambar
Akan segera kita buka demi lembar

Sayang
Si Jantanmu akan kembali
Melindungi belahan jantungnya yang kian lunglai
Kamu masih ingatkan
Pahlawanmu segera pulang untuk kalah dlm pelukan

Makassar,13 Maret 2018
Abdurrahman Hasan

Saturday, 10 March 2018

Masih Dengan Kata

Kau tak akan mengerti
Bahasa dari hati
Yang lama tak berpenghuni
Ia seperti kolam dengan ikan ikan yang mati

Masih dengan kata
Berteman bercerita
Berbagi tawa juga derita
Mengenang masa yang tak pernah berdua

Kau bertanya
Bolehkah kupinjam katamu
Aku ingin bibir ini berani punya
Sesuatu tuk bilang cinta padamu

Aku menjawab dengan ragu
Jangan pinjam kataku
Mereka sudah tertawan cinta lalu
Dicambuk dirajam dan dibunuh

Masih dengan kata
Ini hanya tentang cerita
Upaya bangkit dari jiwa yang didusta
Semoga tiba pada senyum sang semesta

Makassar,10 Maret 2018

Abdurrahman Hasan