Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, 8 April 2018

WANITA BERLISAN IBLIS

Sukma...
Begitulah namamu
Terdengar suci nan elok
Tapi sayang, tidak untuk lisanmu

Sukma...
Wanita tua, bersanggul lebar
Beralis mata palsu
Tutupi keriput di pipi

Sukma...
Katamu seniman dan budayawati
Sukanya aurat tergerai yang katanya suci
Ketimbang cadar pembungkus aurat yang sebenarnya lebih mulia nan suci

Sukma...
Katamu juga seorang muslimah
Tapi tak tahu syariat sang pencipta
Suara kidung ibu indonesia
Bagimu sangatlah indah
Melebihi lantunan ayat sang maha cipta
Yang terlebih dahulu bergema sebelum adanya indonesia merdeka

Sukma...
Katamu paham akan budaya dan keragaman
Menjunjung tinggi bineka tunggal ika
Tapi tak tahu cara menghormati umat beragama
Sepertinya kau miskin agama

Sukma...
Banggamu pada ibu indonesia
Tapi tak tahu jati diri ibu sesungguhnya
Suci luhur nan mulia
Tidak seperti kau
Yang berlisan iblis durjana

Sukma...
Katamu puteri sang revolusioner
Lahir dari kandung ibu pertiwi
Tapi buruk budi pekerti
Kau tak pantas di bumi pertiwi

Lantas
Dimanakah tempatmu sesungguhnya?
Neraka jahanam jawabanku


Bau-bau,
Kamis, 5 April 2018
Iin Faradilla

Monday, 2 April 2018

Al-islamu ya'lu wala yu'la 'alaihi


Kau tinggi
Tak ada yg melebihi tinggimu
Kau tinggi 
Meski ada yg merendahkanmu
Bahkan kau semakin tinggi
Saat ada yg hendak menjatuhkanmu
Mereka tau
Bahwa tinggmu tak mampu mereka raih
Hingga mereka hanya berkutat dalam kubang hina dina
Menghinamu mendinamu
Sejatinya semua itu tak sampai padamu
Hanya akan melayang di awang mereka
Lalu jatuh menimpali wajah dan otak mereka
Bersih suci
Mulia dan selamat
Yg mendekat padamu akan bersiih
Yang mencintaimu akan suci
Yang berpegang kepadamu akan mulia
Yang tetap bersamamu hingga akhir akan selamat
Kau tinggi wahai Sang Langit
Hanya kau dari sisiNya
Yang lain adalah dari akal mereka yg tumpul dan dengkul
Yang lain hanya sebutan mereka
Mencoba mengejarmu namun tak mampu
Mereka sudah bosan menghinamu
Namun tak mendapatimu terhina
Mereka muak ingin menajiskanmu
Namun mendapatimu tetap suci murni
Sebab kau tinggi
Tinggi
Tinggi sekali
Lagu lagu mereka
Menjatuhkannya dalam lumpur
Puisis puisis mereka
Menutup rapat mereka
Hingga terus terjerumus dalam lumpur
Tak mampu balik hingga selamanya tersungkur
Di antara manusia lain dan batu batu yg terbakar

Abdurrahman Hasan

Monday, 26 March 2018

Pancasila Sakti Mandraguna

Ayahku pernah cerita
Engkau adalah dasar lima
Yang Sakti mandraguna
Itu dulu katanya
Kini kau lemah tiada daya
Bukan karena kau sedang meregang nyawa
Tapi banyak yg menangis karena upaya
Menyelamatkanmu dari tipu daya
Entah engkau yg tertipu atau mereka
Tapi lihatlah bahu bahu tempat bersandar ria
Harus tersengat mentari yg sedang tertawa
Sebab ironi dengan sendawa sendawa
Entah kau yang sakit atau mereka
Aku merasa kau baik baik saja
Tapi lihatlah lutut lutut abdi negara
Harus bergetar menahan letih sepi makna
Pancasila
Kau tetaplah dasar yang lima
Jika empat bukanlah kau rupanya
Cuma banyak dari hamba hamba
Yg karena menghamba empatpun mereka suka
Ketuhanan Yang maha esa
Tapi keuangan menjadi raja yg esa
Banyak penyembah penyembah merasa
Sila pertama hanyalah simbol semata
Kemanusiaan yg adil dan beradab
Orang bilang negaraku banyak pengadilan
Tapi sulit kutemukan keadilan
Mungkin mereka sedang pesta bersama Dilan
Memperagakan kamera kamera peradaban
Persatuan Indonesia
Ini yang lebih berbahaya
Sebab upaya bersatu dari warga
Dianggap mencoba keluar dari satu bangsa
Lalu apa persatuan sebenarnya?
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawatan perwakilan
Bijak dari sosok yg diimpikan
Kini benar benar hanya mimpi saat ketiduran
Kala aku bangun untuk bermusyawah
Solusi telah terbentang bak ladang sawah
Luas melintang manjakan mata
Meski dipan kami semakin sempit terhimpit kata

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Lagi lagi atas nama rakyat Indonesia
Bahkan pembual pembohong penjilat semuanya
Demi perut mereka yg semakin dekat pusara
Memakai jargon ini untuk terus berpura pura
Hingga kepala dan pantat bersatu dalam tanah

Abdurrahman Hasan
Makassar, Maret 2018

Tolong

Jangan hadir dalam mimpiku
Kamu tau aku takkan bisa bangun lagi
Jangan beri aku mimpi senyumanmu
Kamu tau setelah kampanye kau akan pergi
Tolong..
Jangan bilang cinta padaku
Aku tau itu dari lidahmu bukan hatimu
Jangan bilang kau terpilih untukku
Aku tau bahkan perutmu takkan pernah penuh
Tolong..
Jangan sebut sebut namaku
Tuhan tau hatimu tidak melakukannya
Masalahmu jangan atas namakan aku
Semesta tau baik dan rusakmu
Tolong ...
Buka kan aku pintu
Aku ingin keluar dari belaian rayuanmu
Biarkan  lain yang memilih
Aku cukup dengan sakit yg dulu kupilih

Abdurrahman Hassan

Monday, 12 March 2018

Aku Akan Pulang

Aku akan pulang
Jangan khawatir sayang
Rindu ini masih bersarang
Tepat di hati
Lelakimu yg telah membuatmu menanti

Pesanmu untuk ku kembali
Masih tersimpan rapih dan kendali
Peta hidup yg kita gambar
Akan segera kita buka demi lembar

Sayang
Si Jantanmu akan kembali
Melindungi belahan jantungnya yang kian lunglai
Kamu masih ingatkan
Pahlawanmu segera pulang untuk kalah dlm pelukan

Makassar,13 Maret 2018
Abdurrahman Hasan

Saturday, 10 March 2018

Masih Dengan Kata

Kau tak akan mengerti
Bahasa dari hati
Yang lama tak berpenghuni
Ia seperti kolam dengan ikan ikan yang mati

Masih dengan kata
Berteman bercerita
Berbagi tawa juga derita
Mengenang masa yang tak pernah berdua

Kau bertanya
Bolehkah kupinjam katamu
Aku ingin bibir ini berani punya
Sesuatu tuk bilang cinta padamu

Aku menjawab dengan ragu
Jangan pinjam kataku
Mereka sudah tertawan cinta lalu
Dicambuk dirajam dan dibunuh

Masih dengan kata
Ini hanya tentang cerita
Upaya bangkit dari jiwa yang didusta
Semoga tiba pada senyum sang semesta

Makassar,10 Maret 2018

Abdurrahman Hasan

Duhai Pemilik Puisi

Kata katamu empu pengisi
Kekosongan hati nan pucat pasi
Tak bisa ku imbangi
Lantunan anggun jarimu pelangi

Oh ...
Pemilik puisi
Gambaran hatimu
Adalah embun peramu rindu
berselimut halimun pembalut pilu

Malam ini...
Aku rindu pelangimu
Aku rindu gambaran hatimu
Aku rindu yg ada padamu
Aku rindu semua tentangmu

Untukmu pemilik puisi
Yang kumiliki
Yang tak sempat kutemui

Makassar, 10 Maret 2018

Abdurrahman Hasan

Thursday, 8 March 2018

Pena Pengutuk

Ujung meruncing
Penggiat pengkritik
Bertinta hitam
Tanda dewa petaka

Penaku pengutuk
Coretan demi coretan berjiwa
Tajam menyayat kuping si tuli yang tak tuli
Menembus hati membatu

Menghujat hingga mengutuk
Pada wajah-wajah bertopeng
Para pencuri ulung
Para penguasa tak tahu malu

Suaranya keadilan
Penyambung tangisan minoritas yang dihilangkan
Perwakilan suara si miskin
Ratapan anak negeri di pelosok bumi pertiwi

Hai...
Kau para pecundang!
Yang katanya...
"Wakil Rakyat"
Yang katanya..
"Kau Tahu Apa Yang Kami Mau"

Inginku kutuk hatimu yang busuk
Hatimu yang gelap
Segelap hitamnya tintaku

Dengarlah seruanku!
Apabila penaku tak lagi bertinta
Siap kugadai darah sebagai gantinya
Agar kau dia dan pecundang lain tahu

Pena pengutukku akan tetap hidup
Sebab perjuanganku tidak hanya sejengkal
Perjuanganku hingga titik darah penghabisan

IF

Bau-bau, 5 Maret 2018

'IF' adalah nama pena Iin Faradilla, Penulis muda asal Lembata-NTT. Karyanya sudah sering dimuat di media cetak dan online.

Monday, 5 March 2018

Pilihan Hidup

Kamu tentu sudah tau bukan?
Bahkan tiap saat kau gadang gadang
"HIDUP ITU PILIHAN"

Memang..
Hidup itu pilihan
Mati yang suatu kemestian

Jadi kalau hidup itu pilihan
Maka kamu harus memilih antara satu
Ahli ibadah atau ahli maksiat

Kamu tdk bisa milih keduanya
Sambil ibdah sambil maksiat
Gimana caranya?
Menjadi setan sekaligus malaikat dalam waktu bersamaan
It's impossible kata orang aring

Jadi kalo memilih berhijrah
Ya sudah
Nikmati hijrahmu rasakan kenikmatan dalam ibadahmu

Sudah berhijrah tpi masih maksiat?
Yakin deh Ibadahmu gak akan nikmat
Yang ada malah kamu ibadah
Tapi khusu'nya ke maksiat

Abdurrahman Hasan

Kutagih Janji Itu

Katamu dulu
Kita sama-sama berterus terang
Agar terang terus sesuatu yg gelap

Katamu dulu
Kita sama-sama melihat
Agar yang dilihat tidak berubah bentuk atau warna

Katamu dulu
Menjamin aku
Agar kujamin dirimu

Tapi kini
Kau tak pernah beri terang aku
Kau tak pernah beri lihat aku
Dan kau jarang menjaminku

Lalu kini
Kau mintaku tuk melihat dalam gelap
Bagaimana aku dapat melihatmu?
Aku tak tahu kemana arah tanganmu bergerak
Kau minta aku tuk menjamin dirimu. Bagaimana aku dapaƄ menjaminmu
Smentara jaminanku engkau pegang?

Ah...
Engkau ada-ada saja
Menipuku dalam gulita

Abdurrahman Hasan

Pagiku Untukmu

Kupinjam kata orang
Untuk mewakilkan rasaku di seberang
Aku ingin menua bersamamu
Dalam dekapan senyuman madu

Mata ini tak mampu menatap
Kejauhanmu yg begitu mantap
Tapi hati ini begitu dekat
KepadaNya yang dirimu selalu melekat

Tak perlu bertemu..
Sebelum ayahmu dan ayahku meramu
Sajak suci penghalal keharaman
Untuk kita membangun sebuah kediaman

Nanti..
Kamu akan selalu mencium tanganku
Seperti aku yang akan selalu mencium keningmu
Kita akan membuat malaikat cemburu
Bahwa bahagia itu adalah saat kita bertemu

Aku tak janji..
Karena itu hanya Tuhan yang mampu menepati
Tapi akau akan berusaha
Menjadi tua bersamamu menghadap Sang Maha

Amin..
Pagiku untukmu
Yang sedang nun Jauh


Abdurrahman Hasan

Pintu Keluar

Ada saja cara Tuhan
Memberimu pelajaran pelajaran
Ia berimu kebuntuan dan kesempitan
Agar kau belajar cara menemukan jalan

Ia berimu keluasan dan kekayaan
Menyertaimu kesehatan dan kebahagiaan
Agar kau tau cara syukuran
Agar kau bisa berbagi kenikmatan

Air menggenang tersimpan banyak penyakit
Menyebarkan wabah kebencian
Harta yg kau tumpuk tak mengobatimu dri sakit
Apalagi menyelamatkanmu dari kematian

Sungguh bantuan yg kau berikan
Suatu hari akan kembali kepada tuan
Ia takkan pernah lupa dari mana berasal
Seperti dirimu yg pasti kembali kpada asal

Dari ribuan kebuntuan
Pintu keluar ada jutaan
Jangan berhenti di situ
Karena RahmatNya menunggu di lain pintu

Abdurrahman Hasan

Sayap Patah

Sayap Ke Tiga patah
Dua sayap hidup lemah
Anak katak bersenggama rindu
Bulan madu milik tuan berdadu

Hai..
Kemanakah si bocah bayi
Suaranya keraas seperti tawa dan tangis
Mungkin bapak menyedot susunya yg manis

Hus..
Lihatlah tawamu buat nasibmu hangus
Jangan salah
Permen itu mengandung cabe merah

Kali ini
Takkan kubiarkan rumahku dihuni
Kurcaci kurcaci pengrajin tambang kerak
Muka mereka kini seperti ketiak
Bau busuk
Hingga jantung ibu mereka ditusuk

Salah
Kau salah
Ular selalu licin dan berbisa
Topengmu terlalu jujur
Nasi nasi sudah menjadi bubur

Atau kau mau
Nasimu kau makan lewat dubur?
Tidak sopan memang
Memanggil bapak dengan senang
Harus lewati dulu anjing anjing penjilat
Yang memakan nasib lewat pantat

Sudahlah
Kau takkan mengerti dan tetap salah
Sayapmu patah yang ke tiga
Tersisa siaga
Kau hanya memiliki satu tenaga
Untuk melumat besi tembaga

Abdurrahman Hasan

Saturday, 24 February 2018

Hujan

Oh hujan
Apa bisaku
Pintamu turun tiap waktu
Keheninganmu gersangkan hamparan salju
Dalam relung yang dulu

Kau memang harus berhenti
Beristrahat dalam sepi
Ajarkan aku betapa nanti aku sendiri
Berteman sunyi dalam gelap bumi

Oh hujan
Tapi engkau memang ajaib
Kau biarkan kering daun dalam gaib
Lalu kau siram semua aib aib
Tumbuh kembang dan kegersanganpun raib

Tapi nanti
Kau akan kurindu lagi
Sebab ada saatnya kau datang lalu pergi
Tapi itulah rel hidup ini
Datang dan pergi
Adalah hal yg mesti

Jadi
Saat datangmu
Senyumilah aku
Saat pergimu
Simpanlah senyum itu
Jangan kau bawa bersamamu


Gowa, 25 Februari 2018

Abdurrahman Hasan

Thursday, 22 February 2018

Sayyidul Ayyam

Bertemu hari paling mulia
Sayyidul Ayyam jum'ad
Menjalankan kewajiban yg ada
Dalam kitab paling mulia
Sayyiduk Kutuub
Al-Qur'an
Mengikuti contoh
dari Nabi paling Mulia
Sayyidul Ambiyaa
Muhammad SAW
3 atau bahkan banyak kemuliaan
Yang senantiasa Allah sediakan
Tinggal kita ada kemauan
Maka selalu ada jalan
Menuju kemuliaan
Kemuliaan itu hakikatnya
Ada di sisi Allah
Tidak sedikitpun di mata manusia
Terkadang bagi manusia
Sesuatu itu hina
Tapi bagi Allah
Itu adalah mulia
Manusia sering menakar
Sesuatu hanya dari mata kasar
Sehingga lupa hakikat yg terdampar
Lalu menilai buruk sampai tempatkan di belukar

Jumat, 23 Februari 2018

Abdurrahman Hasan

Tuesday, 20 February 2018

Mengejar Mimpi





Kala mimpi telah tersemai
Indah hari esok terlihat pasti
Langkah bergetar menuju pintu hayati
Tekat hati wujud hakiki

Tangis menjadi saksi
Lembab mata belum jua usai
Langkahkan kaki
Doa ayah bunda menyertai

Rumah tempat untuk kembali
Pergi bukan untuk ditelan bumi
Ada hati yang dititip disini
Rindu menyelinap tiada henti

Pesan ayah membeku dikepala
Takkan lupa hingga akhir masa
Bekal hidup ditanah fana
Jalani setulus hati jujur modal utama

Tangis mendesak
Ketika kaki tinggalkan jejak
Meraba tanah mengusap kepala
Mengangkat hati "Leu Aliur Au Adonara"
Tanda leluhur restui jejak

Saatnya wujudkan mimpi...!

Lautan lepas,19 Februari 2018

IF

'IF' adalah nama pena Iin Faradilla, Penulis muda asal Lembata-NTT. Karyanya sudah sering dimuat di media cetak dan online.

Sunday, 18 February 2018

Puisi Rindu

Kucoba teriak laut
Namun riaknya redamkan suaraku
Kucoba sapa gunung
Namun tingginya congkakkan kerdilku
Aku lupa bahwa mereka tak berlisan dan berasa

Rindku pada yang semestinya
Namun semestaNya merenggut lalu melucut

Kusenyumi angin
Ia kibaskan topan
Kusalami samudra
Ia balas salam arus gelombang

Kusapa hujan Ia kirim banjir
Kupanggil namamu engkau sahut punggung
Lalu aku masih salah
Persepsikan sahutan sahutan


Abdurrahman Hasan

Negeriku Negeri Pura Pura

Aku cinta Negeriku
Secawan Madu maritim persada
Sehelai sutera jambrud katulistiwa
Sekeping emas garuda dalam dada

Meski banyak yg harus pura pura
Pura pura sakit
Saat korupsi telah menjangkit
Lalu ditangkap dan disidik
Berbagai cara hingga menjual nyawa
Masih dg pura pura

Pura pura alim
Turun ke pelosok pelosok untuk salim
Hadiri juga berbagai ta'lim
Demi sesuap suara
Saat kampanye tiba dan masih pura pura

Pura pura gila
Pemuka agama jadi korban
Oleh Kekhawatiran dan kebimbangan
Takut kekuasaan sirebut
Takut kekuatan direnggut
Takut aib disebut

Maka cara haram dianggap patut
Nayawa orang tak bersalah
Menjadi permainan dan sendawa
Diutusnya orang gila
Masih juga berpura pura

Oh... Aku cinta Negeriku
Cinta ini nyata dan bukan pura pura
Meski banyak yg bilang
Negeriku Negeri pura pura
Biarlah cinta ini tetap tumbuh perlahan
Seperti langkah pasti sang Kura Kura
Dan lambannya bukan pura pura


Makassar,19 Februari 2018

Abdurrahman Hasan


Friday, 16 February 2018

AMPLOP MERAH BERJIWA

Terlalu pagi hujan basahi tanah kelahiran
Hembusan angin kencang
Mengajakku lengkungkan tubuh
Tanda dingin merebak sum-sum

Kantuk kulawan
Sebagaimana melawan yang lalim
Beranjak tinggalkan rayuan kanvas putih yang asyik bercumbu
Menuju dapur bunda mencari si hitam manis Kawan sejati menemani

Terlihat diseberang sana
gedung mewah milik tuan penguasa
Bergantungan lampion merah keemasan
Diseluruh sudut ruangan

Ahh...Rupanya Imlek telah tiba
Kali ini kukembali bersuara
Bukan untuk menyapa atau meminta
Melainkan Amplop Merah Berjiwa yang kuberi

Amplopku tak berisi lembaran rupiah berwarna
Melainkan lembar putih ditaburi coretan
Membakar hangus jantung tak beradab

Masih ingatkah suara gempita Puteri Petani? Bukankah telah kuingatkan?
Tapakilah kembali ujung timur ini
Disini rakyat tetap menanti janji
Tapi tetap tak peduli

Lihatlah...!
Lagi-lagi bersikap acuh
Disana membagi "angpao" kepada sanak
Sedangkan disini ditaburi kebohongan
Dan seonggok kebodohan

Maka..
Jangan salah bila kuberontak
Jangan salah bila kepalan terus kukibar Jangan salah bila air susu harus bicara

Seperti warna merah amplop itu
Aku pun tak gentar untuk terus mengutuk Hatimu yang membatu

Dengarlah tuan penguasa...!
Meski ragaku harus berakhir di bui
Atau pada puncaknya kematian
Selagi masih mampu tuk melawan
Maka akan kugadai napas demi kemenangan

Bangkit dan lawan...!


Lembata,16 Februari 2018

IF



'IF' adalah nama pena Iin Faradilla, Penulis muda asal Lembata-NTT. Karyanya sudah sering dimuat di media cetak dan online.

Sunday, 28 January 2018

Malamku

Kudapati malamku
Sedang merindu
Rindukan belaianku
Yan glama telah berlalu

Aku
Bersamanya di beranda hujan
Bercerita tentang sesekali
Kalimat kalimatnya
Semua adalah isyarat rindu

Oh
Malamku

Abdurrahman Hasan