Nasib Tragis Muhammad Arief, Pencipta Lagu Genjer-genjer


Genjer sempat menjadi sayuran favorit rakyat jelata selama masa perang kemerdekaan. Sayuran yang identik dengan masyarakat miskin ini tiba-tiba menjadi musuh sebagian masyarakat Indonesia pasca peristiwa G30S PKI 30 September 1965.


Pun demikian dengan lagu genjer-genjer ciptaan Muhammad Arief, seniman asal Banyuwangi yang belakangan menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat atau  LEKRA. Salah satu organisasi seni binaan PKI.


Latar belakang penciptaan lagu ini adalah sebagai protes terhadap kesulitan dan kelaparan masyarakat miskin era penjajahan Jepang. Genjer sendiri adalah sayuran favorit masyarakat miskin saat itu. 


Namun lagu genjer-genjer yang populer di tahun 1960an ini tercoreng oleh peristiwa G30S PKI. Lagu yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet ini sering diputar di radio-radio sebelum peristiwa G30S PKI. 


Berikut ini adalah sebagian lirik lagu genjer-genjer ciptaan Muhammad Arief

"Gendjer-gendjer, nong kedokan pating keleler.

Genjer-genjer, nong kedokan pating keleler. Ema'e thole teko-teko muputi genjer.

Ema'e thole teko-teko muputi genjer.

Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh. Gendjer-gendjer saiki wis digowo mulih,"

Lantas bagaimana nasib pencipta lagu tersebut? 

Pada masa (1959-1966), saat demokrasi terpimpin, PKI (Partai Komunis Indonesia) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. 


Lagu genjer-genjer yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu yang menjadi andalan PKI untuk propaganda. 


Lagu yang memang populer dan disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan ini pun menjadi lagu wajib setiap kegiatan politik PKI. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai "lagu PKI".


Setelah peristiwa G30S PKI pencipta lagu genjer-genjer Muhammad Arief tak lepas dari incaran operasi pembersihan anggota atau organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Segala yang berbau PKI saat itu menjadi target operasi pemerintah RI. 


Seperti yang diberitakan kompas.com, Sinar Syamsi putra Muhammad Arief mengungkapkan ayahnya ditangkap dan ditahan tentara sejak saat itu tidak ada kabar tentang ayahnya hingga saat ini. Kemungkinan besar Muhammad Arief menjadi korban dari operasi pembersihan PKI saat itu. 


Pada masa orde baru lagu ini dilarang beredar dan diputar di seluruh Indonesia. Pasca runtuhnya orde baru, apalagi saat ini lagu genjer-genjer mudah ditemukan di internet dan juga Youtube. 


Meski demikian pemerintah Indonesia dan masyarakat umumnya masih belum menerima lagu ini untuk diputar secara bebas, terbukti salah satu grup musik reggae asal Mojokerto Jawa Timur pernah ditangkap polisi pada 2016 silam karena menyanyikan lagu ini. 


Lagu Genjer-Genjer ini juga pernah digunakan sebagai lagu pembuka dan penutup dalam serial dokumenter 40 Years of Silence yang memuat sejumlah kesaksian mengenai tahun 1965-1966. 


Belakangan Genjer-genjer sempat viral di aplikasi TikTok, dengan challenge memutar lagu tersebut ke kakek atau nenek para pemain TikTok. 



Semoga informasi ini bermanfaat. 

February 10, 2021 - tanpa komentar