Momen Menyakitkan Bagi Pemain Badminton Saat Bertanding

Pemain atau atlet badminton atau bulu tangkis biasanya pernah mengalami saat-saat yang paling tidak menyenangkan disebuah pertandingan. 


Biasanya hal yang menyakitkan bagi atlet badminton adalah cedera saat bertanding, namun kali ini bukan soal cedera atlet yang akan dibahas.


Salah satu momen menyakitkan atau momen nyesek bagi pebulutangkis yang sering terjadi adalah saat sudah unggul jauh, tapi keberuntungan menaungi sang lawan. Terkadang saat sudah menyentuh "match point" pun, belum tentu kemenangan akan digenggam. 


Tak peduli pemain bintang maupun pemain level bawah pernah merasakan kejadian seperti itu. Diantaranya adalah saat pertandingan dua bintang badminton dunia asal Denmark dan Indonesia.


Oh iya ini adalah artikel ketiga yang membahas bulutangkis di blog ini artikel terkait dapat disini Mengenal Empat Ratu Bulutangkis Eropa.


Pemain yang pernah merasakan nyerinya sakit ditikung pas lagi jauh-jauhnya adalah Viktor Axelsen. Papinya Vega Rohde ini bagai sudah jatuh tertimpa tangga, saat di semifinal French Open 2019 ia tertikung hanya beberapa poin menjelang game berakhir. 


Pelakunya? Yap. Pemain yang konon kabarnya pernah dekat dengan punggawa JKT48, Shanju. Jonatan Christie.


Jojo melalui dua laga super ketat dalam perjalanannya ke semifinal. Setelah lewat dari Lee Cheuk Yiu di babak kedua, jawara Sea Games 2017 ini kembali bekerja keras di babak perempatfinal. Anders Antonsen yang jadi unggulan ke-4 membuatnya memeras banyak keringat, sebelum kemenangan berhasil ia genggam. 


Menapak semifinal 750, idola para gadis remaja ini tak berkutik di set pertama melawan Axelsen. 


Sempat unggul 1-0 atas wakil Denmark itu, Jojo malah tampil melempem sepanjang game. Di posisi tertinggal 1-8, pukulan out of position dari Axelsen gagal dikonversi jadi poin. Malah, pengembalian bola Jojo nyangkut dan gagal menyebrang. 


Pengembalian bola defence Axelsen yang melebar oleh Jonatan di kedudukan 10-1 menutup interval set pertama untuk keunggulan telak Axelsen. Selepas interval pertandingan berjalan tak berbeda jauh, hingga Axelsen mengunci kemenangan 21-7 atas andalan Indonesia itu.


Viktor Axelsen bermain sesuai pattern-nya. Mengandalkan serangan-serangan tajam memanfaatkan setiap lambungan bola yang Jojo berikan. Namun, Jojo tampil lebih siap di set kedua.


Sejak dimulai, Jawara Asian Games ini selalu unggul poin. Meski sempat menyia-nyiakan kesempatan menutup interval di posisi 10-8 dengan service melebarnya, tapi smash silang yang diarahkan Axelsen saat kedudukan 10-9 melebar dan menutup interval untuk Jojo.


Laga pasca interval berjalan semakin ketat. Baik Jonatan maupun Viktor saling bergantian mencuri angka. 


Viktor sempat melakukan sedikit provokasi, saat ia mendulang poin di kedudukan 18-18. Usai melalui reli cantik, pukulan halus menyilang dari Axelsen gagal dikembalikan Jojo. Sambil berkeliling, Viktor memukul-mukul dadanya dengan genggaman tangan, seolah menunjukkan pada sang lawan, "it's me, Viktor." 


Jonatan mendapat kesempatan game point pertamanya. Sayang, Viktor mampu memaksakan setting, meski kemenangan pada akhirnya direbut Jonatan. Rubber set.


Awal set ketiga berjalan dengan kembalinya permainan efektif dan efisien dari Viktor. Suami dari Natalie Koch Rohde ini kembali dominan atas Jojo. Sebetulnya Jonatan mampu unggul atas sang lawan di awal set. Sayang, Viktor kembali menikung dan malah unggul 10-5. 


Setelah interval, sesuatu yang aneh terlihat pada Axelsen. Langkahnya tak seringan dua set awal. Namun, ia cerdik memainkan shuttlecock. Hingga di kedudukan 19-10 untuk keunggulannya, masalah di paha membuat ia perlahan tersusul. 


Sedangkan Jojo, ia sadar dengan masalah yang membekap lawannya itu. Maka, dengan sabar ia membuat Axelsen kesulitan menjangkau setiap pukulannya. Satu per satu poin diraih Jojo. 


Setahap demi setahap berjalan mulus. Hingga akhirnya, setelah membuat Axelsen "menderita" di penghujung set ketiga, Jonatan sukses mengunci kemenangan. Merebut 11 poin beruntun dan mengamankan tiket ke babak final.


Andai Jonatan tak bermain sabar, bisa saja ia berbuat kesalahan mendasar yang kerap dilakukannya sejak set pertama dimulai.


Andai Jonatan bermain tergesa-gesa, bisa saja ia memberi poin percuma bagi Axelsen dengan pukulan nyangkut atau shuttlecock yang melebar. 


Namun, ia sukses mengatasi egonya dengan tetap bermain sabar. Tidak terburu-buru mengeksekusi bola yang bisa saja nyangkut atau melebar. Permainan save and accurate inilah yang kini tak tampak darinya. 


Kita berharap, ada perubahan dari Jojo di jeda sebulan jelang All England. Perubahan positif, sebab banyak target besar di tahun 2021 ini.

February 13, 2021 - tanpa komentar