Roti Bulan Sabit, Simbol Pelecehan Islam?





Akhir-akhir ini provokasi bahkan tindakan kekerasan dan pelecehan terhadap Islam meningkat di beberapa negara di Eropa, seperti yang terjadi di Norwegia dan Swedia, serta Prancis yang kembali meprovokasi muslim dengan menerbitkan kartun nabi Muhammad, seperti yang dilakukan 2005 silam oleh majalah Charle Hebdo.

Kita akan bernostalgia dulu ke abad pertengahan tentang hubungan Eropa dan Islam. 


Dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, digambarkan bahwa Croissant yang merupakan makanan khas Perancis ini adalah bentuk kebencian bangsa Barat terhadap agama tertentu, mengingat lambang kue ini berbentuk bulan sabit.


Apakah Croissant diciptakan untuk menghina tentara Turki dan Islam?


Jawabannya Tidak Sepenuhnya benar. 


Sebenarnya, kue ini bukan asli dari negara Prancis, tetapi dari Austria. Adalah Marie Antoinette, ratu Prancis yang keturunan Austria lah yang mempopulerkan Croissant untuk menu sarapan. 


Croissant pun semakin populer di Perancis sejak sebuah toko roti atau boulangerie (bakery) “Viennoise” mempopulerkannya pada tahun 1838 di Paris, tepatnya di 92, rue de Richelieu dekat l’Opéra.


Pemiliknya adalah seorang bekas perwira artileri Austria bernama August Zang. Kekhususan toko roti ini adalah menjual roti-roti khas Austria yaitu Kipferl (cikal-bakal croissant) dan Viennois (seperti roti baguette Perancis tapi beruas-ruas agar mudah dipotong dengan tangan).


Lantas kenapa bisa dianggap sebagai simbol kebencian Barat terhadap Islam? Alasannya, pada abad 17, Austria baru saja menang berperang melawan Turki dalam Siege of Vienna.


Sebagaimana diketahui bahwa tentara Turki ini beragama Islam dan selalu membawa bendera dan panji-panji berlambangkan bulan sabit atau crescent. 


Bulan sabit sendiri sebenarnya bukan merupakan simbol Islam. Artikel terkait bisa dibaca di Bulan dan Bintang Simbol Islam?. Bulan sabit adalah simbol Kesultanan Muslim Ottoman.


Jadi, benarkah Croissant merupakan simbol penistaan agama? 


Oke Kita lihat faktanya 


Ternyata sejarah terciptanya croissant lebih lama lagi. Kipferl, kue dari Austria yang merupakan nenek-moyang atau cikal-bakal dari croissant.


Kejadian ini berlangsung pada abad ke 13. Pada masa itu Kekaisaran Austria mempunyai banyak musuh sehingga tentaranya selalu berada dalam keadaan siap siaga setiap saat.


Akibatnya tentara dari negara-negara musuh tidak bisa dengan gampang-gampang menyerang tanpa diketahui oleh para pengintai Austria.


Bangsa Austria, seperti halnya bangsa-bangsa Eropa lainnya memiliki kebiasaan bangun pagi, sarapan roti, minum susu atau kopi dan kemudian bekerja keras sehari penuh.


Kebutuhan akan roti untuk sarapan pagi ini membuat para pembuat dan penjual roti bisa mencari nafkah dengan pendapatan yang baik.


Kalau orang lain bekerja keras seharian penuh pada siang hari, para tukang roti ini bekerja keras sejak dini hari agar roti-roti bisa siap dan dijual sebelum waktu sarapan pagi.


Suatu hari, tentara musuh-musuh ini berencana untuk melakukan penyerbuan pada dini hari dengan perhitungan bahwa para penduduk Austria masih lelap tidur. 


Mereka tidak memperhitungkan bahwa pada dini hari itu para pembuat roti ini sudah sibuk bekerja keras untuk nafkah mereka sehari-hari.


Pada hari penyerangan itu, suara derap kaki kuda tentara musuh itu sudah terdengar dari kejauhan oleh para pembuat roti tersebut. Mereka segera melaporkan kejadian itu kepada pos garnisun terdekat.


Secepat kilat, petugas garnisun memberitahukan kepada para komandan jaga tentang semua hal yang dilaporkan oleh penduduk.


Singkat cerita perang pun pecah dan musuh lalu berhasil dipukul mundur. Kejadian tentang serangan musuh pada pagi hari buta yang ternyata bisa diketahui oleh para pembuat roti ini juga dilaporkan kepada Kaisar Austria.


Kepada para tukang pembuat roti ini Kaisar memberi hadiah atas jasa-jasa mereka, dan memerintahkan agar membuat roti khusus yang bisa mengingatkan mereka semua atas kejadian ini.


Akhirnya mereka semua bersepakat untuk membuat roti kipferl, yang sekarang kita kenal dengan nama croissant, yang mengambil bentuk ladam atau tapal kuda (seperti huruf U).


Memang sejak dulu manusia menyukai lambang-lambang. Lambang croissant memang terinspirasi dari suara gemuruh yang dibuat oleh tapal-tapal (sepatu) kuda tentara musuh, yang menyelamatkan Austria dari serangan musuh kala itu.


Jadi peristiwa kekalahan Ottoman dalam Siege of Vienna memang nyata. Tapi, kue Croissant sudah lebih dulu diciptakan sebelum kejadian itu. Jadi benaran tidak tepat bahwa kue itu adalah penistaan terhadap Islam. 


*berbagai sumber



September 05, 2020 - tanpa komentar

Related Posts