4 Metode Hukuman Mati Paling Kejam dalam Sejarah

Hukuman mati sudah dikenal sejak zaman dahulu, metode hukuman selalu berkembang sesuai dengan peradaban manusia, jika kini hukuman mati mempertimbangkan faktor kemanusiaa, tidak dengan hukuman mati yang berlaku di masa kuno. 


Berikut 4 hukuman mati paling kejam dalam sejarah umat manusia. 


 1. The Blood Eagle



Metode eksekusi yang diduga dilakukan oleh Bangsa Viking ini adalah dengan mengikat tangan dan kaki korban pada permulaan untuk mencegah adanya gerakan. 


Penyiksa kemudian akan merobek kulit serta membedah punggung korban, parahnya lagi tulang rusuk akan dibengkokkan hingga menghadap keluar tubuh.


Biasanya  para korban seringkali tetap hidup saat melalui bagian dari hukuman ini ini. Penyiksaan ini membuat organ dalam terlihat. Garam pun seringkali dioleskan ke luka untuk meningkatkan rasa sakit. 


Akhirnya, paru-paru akan ditarik keluar dari tubuh agar tampak seolah-olah korban benar-benar memiliki sepasang "sayap".


2. Scaphism





Skafisme, alias "the boat," adalah metode eksekusi Persia kuno di mana seseorang akan mati karena dimakan hidup-hidup. 


Korban akan ditempatkan di antara dua kano kayu atau batang pohon yang telah dilubangi, dengan kaki dan kepala menonjol keluar. 


Para algojo kemudian akan memaksa korban untuk mengonsumsi campuran susu dan madu hingga terserang diare, lalu korban akan dikelilingi oleh kotoran dan muntahannya. 


Tidak hanya itu, campuran susu dan madu akan dioleskan ke area sensitif tubuh sehingga menarik serangga untuk memakan tubuh mereka dan bertelur di lubang yang terbuka.


Dengan jatah susu dan campuran madu beserta air, kecil kemungkinan korban meninggal karena kelaparan atau kehausan. 


Kematian akan sangat lambat dan biasanya datang dari syok septik atau gangren( Kematian jaringan yang terjadi pada anggota tubuh atau kulit karena kehilangannya suplai darah ).


Sebuah catatan oleh sejarawan Yunani Plutiarch mengklaim bahwa korban membutuhkan waktu sekitar 17 hari untuk akhirnya mati.


3. Judas Cradle




Metode ini banyak digunakan di Eropa Abad Pertengahan, tujuan dari penyiksaan ini adalah untuk mendapatkan berbagai macam pengakuan dengan memaksa korban telanjang ke kursi yang berbentuk piramida. 


Kaki korban sering kali diikat sedemikian rupa sehingga menggerakkan satu kaki akan menambah rasa sakit dengan memaksa kaki lainnya untuk ikut bergerak. 


Penyiksa mampu menaikkan dan menurunkan korban dengan sistem tali dan katrol, yang mendorong bagian penetrasi lebih dalam ke tubuh korban. Beberapa penyiksa juga akan mengoleskan minyak ke alat siksa, sehingga mampu meningkatkan rasa sakit. 


Alat itupun jarang atau sama sekali tidak dicuci, sehingga meningkatkan kemungkinan kematian akibat infeksi. Dalam beberapa kasus, korban akan diguncang atau dipaksa jatuh berulang kali di kursi berbentuk piramida untuk mendapatkan informasi penting.


4. Lead Sprinkler


Alat yang biasanya digunakan pada Abad Pertengahan ini berisi timah cair, ter, minyak mendidih, dan zat panas lainnya. 


Biasanya algojo yang berugas akan menuangkan logam ke salah satu ujungnya untuk memungkinkan zat yang sangat panas menetes ke perut atau bagian tubuh korban lainnya.


Eksekusi terkadang terjadi dengan menuangkan perak cair ke mata, hingga mengakibatkan rasa sakit yang hebat atau bahkan kematian.


Semoga informasi yang saya kutip dari berbagai sumber ini bermanfaat.



September 07, 2020 - tanpa komentar

Related Posts