Getrude Bell, Sang Ratu Pengembara Gurun

By,Dagelan.co

Getrude Bell adalah mata-mata Inggris dan penjelajah. Dia juga salah satu arkeolog terkenal yang merencanakan dan melakukan aksi kerusuhan di Irak, Suriah dan Yordania.  Bell sangat mengesankan dalam menjalankan tugasnya sebagai mata-mata Inggris sehingga ia disebut 'putri padang pasir' atau 'ratu gurun'.

Gertrude Margaret Lowthian Bell ini lahir pada 14 Juli 1868 tepatnya di County Durham, Inggris Timur Laut, Gertrude Bell dididik dengan pendidikan dengan kualitas yang baik, melanjutkan untuk lulus dari Oxford dengan gelar kelas satu dalam Sejarah Modern. Dia adalah wanita pertama yang berhasil lulus.

Fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Arab, Persia dan Turki, Bell berteman dengan orang-orang lokal dan pedagang di Yerusalem yang dikuasai Osmani, Suriah, dan Irak. Dengan berpura-pura melakukan studi arkeologis, dia menggambar peta daerah dan mengirimnya ke British Royal Geographical Society.

Bell bersama rekannya yang bernama Lawrence ditugaskan untuk mendorong orang-orang Arab memberontak kepada Kerajaan Osmani. Mereka menghasut orang-orang Arab dengan perkataan bahwa Khalifah lebih pantas dipegang oleh bangsa Arab.Miss Bell sendiri menjelajahi Arabia karena ketertarikannya pada keindahan dan misteriusnya daerah tersebut.

Dia Pertama kali ke Jazirah arab ini pada tahun 1892, awal mulanya dia tiba di Teheran (Iran), saat itu pamannya yang bernama Sir Frank Lascelles menjadi Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris disana. Jauh sebelumnya Miss Bell memang sudah berminat pada Jazirah Arab, ketertarikannya itu diantaranya melalui puisi-puisi karya Ummar Khayam.

Setelah perjalanan ke tempat yang sekarang menjadi Ibukota Iran ini, Arab menjadi minatnya hingga akhir hayat.Pada masa Ottoman dibawah Sultan Abdul Hamid II, Getrude Bell mengunjungi Ottoman dan meminta izin sultan untuk menggali peradaban kuno di bumi Ottoman, sesuai dengan keahliannya di bidang Arkeologi. Dia juga berperan besar atas runtuh kesutanan Ottoman dengan berusaha keras mempengaruhi suku-suku Arab untuk melepaskan diri dari kesultanan.

Kepiawaian serta ketertarikan dan kecerdasan Getrude Bell dalam menjelajahi dan mendekatkan diri dengan suku-suku terasing di Arab saat itu itu menjadikannya sangat diminati pemerintahan Kerajaan Inggris. Ia dianggap lebih memahami karakter dan kepribadian suku-suku Badui kemudian diminta menjadi mata-mata bagi kepentingan Kerajaan. Namun, Getrude Bell selalu menolak hal itu dan menegaskan bahwa ia adalah ilmuwan, pecinta sastra, penjelajah, arkeologis, dan penulis, bukan mata-mata. Hanya saja, sejarah kemudian mencatat bahwa memang kegiatannya kemudian digunakan sebagai alat spionase bagi pemerintahnya. Hal ini terutama saat ia dan Lawrence of Arabia bergandengan tangan dalam menstabilkan daerah yang kini kita kenal sebagai Jordania dan Iraq.

Hingga akhir hayatnya, Miss Bell tidak menikah meninggal dunia dengan cara bunuh diri di Baghdad pada 12 Juli 1926. Dan makamnya sampai saat ini masih ada di Baghdad.


Nur Muhammad Al Amin

Berbagai Sumber

August 25, 2019 - tanpa komentar

Related Posts