Eropa Yang Menjajah, Mengapa Tionghoa Yang Dibenci?


Kebencian atau sikap antipati terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik Belanda maupun Jawa. 

Dalam artikelnya berjudul Duka Warga Tionghoa di majalah Historia, Hendri F. Isnaeni, menyebut bahwa dalam sejarah, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. 

Cikal bakal permusuhan warga pribumi terhadap adalah ketika perlakuan istiimewa kepada warga Tionghoa oleh para Sultan Jawa yang menjadikan mereka sebagai bandar-bandar pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di sungai-sungai dan pasar. 

Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa memungut pajak, Belanda dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah yang telah dikuasainya dan akhirnya perlakuan membuat kebencian warga pribumi terhadap minoritas Tionghoa mendarah daging, menyebar luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau penjelasan. Kebencian menahun ini yang kemudian berkembang di Indonesia.

Kemudian Hendri F. Isnaeni juga menulis bahwa pada awal abad ke-20, kembali tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912 dan kerusuhan di Kudus pada 1918. Pada masa revolusi, kembali terjadi gerakan anti etnis Tionghoa. Tragedi terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi pada tahun  1965. Pada September 1965 (G30S). Banyak masyarakat Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena dianggap komunis atau mata-mata Tiongkok. 

Orang-orang Tionghoa saat itu dianggap menjadi mata-mata China yang menjadi negara komunis besar saat itu dan dugaan keterlibatan China dalam Gerakan 30 September 1965. Kebencian terhadap etnis Tionghoa, juga pernah terjadi jauh sebelumnya seperti yang terjadi di Tangerang pada Mei-Juli 1946, Bagan Siapi-api pada September 1946, dan Palembang pada Januari 1947. 

Tragedi pembantaian Perang Jawa membuat kebencian antara Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu membenci orang Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut pajak. 

Masyarakat Tionghoa menjadi takut terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa menganggap Tionghoa sebagai mata duitan dan pemeras. Kebencian ini tidak berhenti sampai situ saja, orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras harta masyarakat lokal. 

Kebencian ini  menahun dan mengakar dimulai dari Chinezenmoord 1740 sampai Mei 1998.  Sejak itu hingga kini ide primordial pribumi melawan pendatang menjadi legitimasi untuk melakukan kejahatan. Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas yang telah dilakukan semenjak penjajahan. 

Stigma bahwasannya orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi.

Seperti juga orang-orang Yahudi di Eropa dulu, orang Tionghoa yang adalah keturunan imigran menghuni daerah urban dan mencari peruntungan disana. Turun temurun mereka membawa budaya kegigihan, kerja keras, dan survival mode secara sosial dan ekonomi. Alhasil banyak dari mereka yang sukses secara ekonomi, menghasilkan anak-anak yang dididik hingga tinggi untuk menjadi generasi orang-orang sukses berikutnya.

Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang. Namun perlu juga disadari oleh saudara-saudara Tionghoa agar menghilangkan cara ekslusif seperti pemisahan diri dari agar terjadi akulturasi dan persatuan dan menjadi warga negara Indonesia seutuhnya. Sikap ekslusif seperti harus sekolah ditempat khusus seharusnya dihilangkan agar proses pembauran dengan warga pribumi menjadi lebih efektif. 

July 04, 2019 - tanpa komentar

Related Posts