5 Ilmuwan Indonesia Yang Menjadi Professor di Universitas Luar Negeri

Menjadi seorang profesor di kampus luar negeri bukanlah perkara mudah. Misalnya saja ketika Anda direkrut oleh kampus, maka Anda tidak serta merta menjadi profesor sepenuhnya di sana.

Ada banyak tahapan yang mesti dilalui, seperti menjadi Profesor Asisten terlebih dahulu (dalam waktu sekitar enam tahun), setelah itu dievaluasi hasil pengajaran, penelitian dan pengabdiannya. Jika hasil evaluasinya baik, maka Anda akan diangkat menjadi Lektor Kepala (di beberapa tempat disebut sebagai Profesor Madya atau Associate Professor), kemudian dievaluasi kembali hingga memenuhi standar menjadi seorang Profesor.

Ya, membayangkan prosesnya saja sudah cukup sulit, namun, banyak anak bangsa kita mendapatkan hasil evaluasi yang sangat baik dan layak menjadi profesor di kampus luar negeri. Dari mulai penemuan teknologi LED, Wakil Dekan di kampus ternama hingga penghargaan internasional pernah diraih oleh profesor-profesor kita.

Nah inilah lima dari (beberapa) ilmuwan Indonesia yang menjabat sebagai profesor di kampus luar negeri, dan patut kita apresiasi sepak terjangnya:

1. Nawi Ng 



Nawi Ng adalah Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Global di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Klinis, Fakultas Kedokteran, Universitas Umeå, Swedia. Ia menerima gelar Doktor Medis dari Universitas Gadjah Mada Indonesia, dan pelatihan MPH dan PhD di Universitas Umeå Swedia.

Penelitiannya berfokus pada epidemiologi faktor risiko penyakit kronis, kesehatan orang dewasa dan penuaan di negara berpenghasilan rendah dan menengah di Afrika dan Asia, serta di Swedia. Bila Anda tertarik dengan penelitian tersebut dan ingin melanjutkan kuliah di benua Eropa, maka jangan sungkan untuk menghubungi Profesor Nawi Ng.

2. Harianto Raharjo



Siapa sangka, salah satu lulusan sarjana dari kampus dalam negeri kita berhasil menjabat sebagai Wakil Dekan di kampus ternama, Nanyang Technological University?

Dialah Harianto Rahardjo, yang telah menyelesaikan program sarjana di Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian memperoleh gelar M.Sc dan Ph.D dalam Rekayasa Geoteknik dari University of Saskatchewan, Kanada. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Dekan / Kepala Asosiasi (Penelitian) di Sekolah Teknik Sipil & Lingkungan, Direktur NTU-PWD Pusat Penelitian Geoteknik, Kepala Divisi Sistem Infrastruktur dan Studi Kelautan, Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

3. Nelson Tansu



Bila Anda pengguna lampu LED di rumah dan merasa sangat terbantu dengan kehadiran teknologi tersebut, maka Anda mesti berterima kasih kepada Nelson Tansu, karena dia telah berkontribusi dalam penemuan di bidang semikonduktor yang kemudian digunakan untuk teknologi LED.

Nelson merupakan seorang Professor of Electrical and Computer Engineering di Leehigh University, Amerika Serikat. Ia memulai karir sebagai Profesor Asisten termuda di Lehigh University pada umur 25s (masih sangat muda!). Sebelumnya, Ia merupakan lulusan terbaik dari Yayasan Perguran Sutomo 1 Medan, yang kemudian melanjutkan studi S1 hingga S3 di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat.

Ia juga telah mempublikasikan lebih dari 220 jurnal dan konferensi ilmiah internasional (Februari 2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi, kemudian memiliki 8 paten dalam bidang nanoteknologi dan optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat.

4. Teruna J. Siahaan


Masih di kota kelahiran yang sama dengan Nelson Tansu, di tempat ini, Teruna J. Siahaan menempuh jenjang SD hingga SMA, kemudian menyelesaikan program sarjana dan magister di Jurusan Kimia, Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1986, Ia mendapatkan gelar Ph.D. di bidang Kimia Organik di Department of Chemistry, University of Arizona, Amerika Serikat.

Ia juga melanjutkan training sebagai Postdoctoral Fellow di Department of Chemistry, University of California, kemudian memulai karir akademiknya sebagai Profesor Asisten di Universitas Kansas dan dipromosikan secara bertahap ke jenjang Associate Professor, Full, dan Distinguished Professor. Saat ini beliau telah mempublikasikan sekitar 174 artikel, 20 buku, 12 catatan, 2 buku, dan 12 paten.

5. Danny Sutanto


Setelah melihat beberapa ilmuwan Indonesia yang berkiprah di benua Amerika dan Asia, sekarang mari kita melirik ke benua Australia, tepatnya di kota Wollongong. Dia adalah Danny Sutanto, yang telah berhasil mendapatkan gelar B.Eng-nya. dan Ph.D. dari University of Western Australia. Setelah lulus, Ia bergabung dengan Proyek GEC Australia sebagai Analis Sistem Daya. Pada tahun 1996, Ia menjabat sebagai Profesor Teknik Listrik di Hong Kong Polytechnic University.

Kemudian pada tahun 2006, Ia menjadi Profesor Teknik Listrik di Sekolah Teknik Listrik, Komputer dan Telekomunikasi, Universitas Wollongong. Meskipun tidak cukup terkenal seperti Nelson Tansu, namun, kiprahnya di dunia pendidikan tidak kalah hebatnya. Tercatat bahwa penghargan Outstanding Performance in Teachingpernah diraih olehnya di HK Polytechnic University, lalu dia pun sempat menjadi anggota Dewan Penasihat Internasional untuk beberapa konferensi internasional.

Oh ya, di sini saya hanya menuliskan lima orang ilmuwan yang tersebar di benua Asia, Eropa, Amerika dan Australia, sebagai bukti bahwa Indonesia pun berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di dunia. Akan tetapi saya belum menemukan data terkait ilmuwan Indonesia yang berkiprah di benua Afrika. Semoga bermanfaat. 

Nur Muhammad Al Amin

Sc : berbagai sumber



June 22, 2019 - tanpa komentar

Related Posts