Awalalolong, Bisnis Berbalut Pembangunan?

Awalolong, tiba-tiba saja menjadi terkenal ke seantero Indonesia, banyak media online baik lokal maupun nasional yang mengangkat isu Awalolong menjadi bahasan di media mereka, bahkan ada yang menjadikannya sebagai headline. Lantas mengapa Awalolong begitu populer akhir-akhir ini? Awalolong sebuah pulau kecil yang hanya berjarak 300 meter dari pesisir Lewoleba , ibu kota Kabupaten Lembata-NTT. Pulau tersebut memang cukup unik karena merupakan laguna, yang terbentuk dari proses pembentukan timbunan pasir.

istimewa
Pulau Awalolong yang jika di-indonesiakan berarti pulau Siput ini, hanya muncul saat air laut sedang surut, namun ketika sedang terjadi pasang, pulau ini akan hilang ditelan birunya lautan. Karena secara alami terbentuk oleh endapan pasir, maka pulau ini tak layak huni, dan hanya menjadi tempat wisata, maupun tempat singgah para nelayan di sekitar pulau Lembata ketika hendak mencari penghidupan.

Akhir-akhir ini, Pulau Siput ini menjadi ramai karena polemik yang terjadi antara pro dan kontra terhadap wacana Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata yang hendak menjadikan pulau ini sebagai destinasi wisata baru di pulau Lembata, khususnya di kota Lewoleba. Bahkan secara administrsi Pemerintah dan dan DPRD telah menyepakati pembangunan tersebut dengan disetujuinya anggaran pembangunan pulau tersebut sebesar 7 milyar rupiah yang diambil dari APBD. Pembangunan tersebut merujuk pada rencana induk pengembangan pariwisata (Ripda) Lembata dan sesuai perda nomor 1 tahun 2012 tentang pengelolaan pariwisata yakni Awololong.

Namun, pembangunan ini menurut beberapa pihak sepertinya terlalu dipaksakan, terutama terhadap proyek restoran terapung dan juga kolam apung, pembangunan hanya membuang-buang anggran, hanya terkesan menguntungkan beberpa pihak, terutama para investor yang menangani proyek yang cukup besar di Lembata ini. Bahkan pihak WALHI NTT maupun Lembata pun mendesak agar Pemerintah menghentikan proyek pembangunan Awalolong, karena tidak ada izin kelayakan atau AMDAL. WALHI juga berpendapat bahwa proyek Awalolong adalah proses privatisasi pesisir dan kelautan yang merugikan hak hisdup nelayan yang menggantungkan hidupnya di sekitar itu.

Protes keras juga datang dari beberpa elemen dan organisasi kemahasiswaan, baik organisasi eksetern kampus maupun organisasi kedaerahan atau Organda asal Lembata. Salahsatu protes keras datang dari LMND atau Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi, yang memang terkenal paling getol memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan hak hidup kaum marjinal ini. Penulis sendiri juga menolak dengan keras dan tidak menyetujui proses pembangunan tersebut. Pembangunan yang tidak berdampak sama sekali pada perkembangan ekonomi kerakyatan, alangkah baiknya jika dana sebesar itu dialihkan untuk pembangunan yang lebih tepat sasaran dan menyentuh langsung pada hajat hidup masyrakat kecil di lewotana.

Menggenjot sektor pendidikan dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak Lembata untuk belajar ke jenjang pendidikan lebih tinggi, adalah lebih adil ketimbang memberikan 7 milyar untuk beberapa pihak yang menikmatinya dengan dalih pembangunan destinasi wisata. Sepatutnya pemerintah Lembata menjadikan Awalolong menjadi cagar budaya, sehingga eksistensi Awalolong sebagai tempat sejarah itu terjaga, dan tetap lestari untuk anak cucu nantinya. Jika demikian terpaksanya proyek tersebut, tidak salah jika patut untuk dicurigai bahwa Awalolong adalah milik pribadi pengusaha, bukan untuk kepentingan masyrakat Lembata. adalah sebuah kewajaran jika pembangunan itu terkait dengan bisnis, karena pembangunan butuh investor, bukan bisnis yang berbalut pembangunanan.




Helmi Aziz Saputra 

Sekum HIPMIK Lembata-Makassar 2017-2018
Mahasiswa Hukum UIT Makassar




Loading...

February 06, 2019 - tanpa komentar

0 komentar untuk Awalalolong, Bisnis Berbalut Pembangunan?.