Ribut Soal Poligami, Nih Hukumnya dalam Islam

Akhir-akhir ini poligami kembali diributkan, terutama oleh para pemangku kepentingan politik, bermula dari pernyataan pentolan Partai Sarikat Indonesia (PSI) Grace Natalie. Mantan News Anchor TVOne tersebut menyatakan dalam janji politiknya bahwa akan menghpus dan melarang praktek poligami di Indonesia. Disusul pernyataan salah seorang anggota Komisi Nasional Perempuan atau Komnas Perempuan Imam Nahe'i yang mengatakan praktik poligami  bukan bagian dari ajaran Islam. Hal ini juga menjadi polemik setelah Pengurus Pusat Majelis Ulama IndonesiA (MUI) membantah dan mengtakan bahwa pernyataan pentolan PSI dan Komna Perempuan tersebut sesat dan menyesatkan, MUI berpendapat bahwa Poligami merupakan bagian dari ajaran Islam.

ilustrasi Poligami


Lalu bagaimana sebenarnya poligami dalam Islam?

Dari berbagai literatrur dan sejarah, praktik poligami sudah dilakukan sejak masa nabi Muhammad SAW, sang nabi sendiri adalah pelaku poligami. Karena poligami merupakan bagian dari ajaran Islam. Poligami dalam agama Islam terbatas pada Poligini seorang pria Muslim diizinkan atau boleh menikahi lebih dari satu wanita. Sedangkan untuk praktek sebaliknya yakni Poliandri  adalah  Haram dalam Islam, yaitu seorang wanita yang menikah dengan lebih dari satu pria. 

Dalil dalam al quran yang membolehkan praktik poligami adalah Surah An-Nisa' (4) ayat 3:
Bunyinya adalah sebagi berikut :  ....... ... Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.(Surah An-Nisa' (4) ayat 3). Sedangkan ayat 3 surat An-Nisa ini juga menjelaskan secara khusus tentang poligami yakni dalam  Surat An Nisa (4) ayat 22-24 memberikan daftar wanita yang tidak boleh dinikahi. Sedangkan untuk praktik poliandri di ayat 22 surat annisa dengan tegas melarang praktik tersebut. Untuk kasus poliandri sendiri disebutkan dalam Surah An Nisa (4) ayat 24: “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami…".

Ada beberapa ulama kontemporer seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan, mereka adalah ulama terkenal Al azhar Mesir. Mereka  lebih memilih memperketat penafsirannya. Ulama terkenal Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu yakni tahun 1899, memilih untuk mengharamkan poligami. Dia Syekh Muhammad Abduh mengatakan: Haram berpoligami bagi seseorang yang merasa khawatir akan berlaku tidak adil. pada masa ini negara Islam yang mengharamkan poligami hanya negara Maroko . Namun sebagian besar negara-negara Islam di dunia hingga kini tetap membolehkan poligami, termasuk Undang-Undang Mesir , dan juga di Indonesia dengan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 4 ayat (1) poligami dapat dilakukan dengan beberapa persayaratan.

Nabi Muhammad sendiri, 
nabi utama dalam agama Islam juga melakukan praktik poligami saat delapan tahun sisa hidupnya, masa sebelumnya ia hanya beristri satu orang yakni Siti Khadijah selama 28 tahun. Setelah istrinya  meninggal (Khadijah) barulah ia menikah dengan beberapa orang wanita. Kebanyakan dari mereka yang diperistri Muhammad adalah janda yang ditinggal suaminya yang jadi syahid di medan perang. Hanya Aisyah putri sahabatnya Abu Bakar yang dinikahi dalam kondisi gadis. Sebaliknya, Nabi Muhammad membatasi membatasi praktik poligami, serta mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan nabi juga menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami. 

Dalam hal ini nabi pernah meminta para shabatnya yang menikahi perempuan hingga delapan orang untuk menceraikan dan menyisakan hanya empat. IHal itu pernah dilakukan nabi pada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits, dan, inilah pernyataan eksplisit nabi daalam menerjemahkan dalil tentang bolehnya praktik poligami dalam pembatasan yang tidak boleh lebih dari empat orang. 


Jadi jelas yah, praktik poligami dibolehkan dalam ajaran Islam, selama proses dan prosedurnya sesuai syariat dan melalu persyaratan yang sangat keta, jika mampu silakan, jika tidak mampu janganlah mencibir, apatah lagi menyalahkan syariat Tuhan yang nyata-nyata tersirat dalam wahyunya. Jika tidak punya kemampuan untuk menfasirkan ajaran agama orang lain lebih baik diam, tak usah mencari masalah dengan menjerumuskan diri mencoba menfsirkan agama orang lain, hanya untuk kepentingan politik sendiri. Wallahu alam.



Nur Muhammad Al Amin 
Loading...

December 17, 2018 - tanpa komentar

0 komentar untuk Ribut Soal Poligami, Nih Hukumnya dalam Islam.