Monday, 26 March 2018

Pancasila Sakti Mandraguna

Ayahku pernah cerita
Engkau adalah dasar lima
Yang Sakti mandraguna
Itu dulu katanya
Kini kau lemah tiada daya
Bukan karena kau sedang meregang nyawa
Tapi banyak yg menangis karena upaya
Menyelamatkanmu dari tipu daya
Entah engkau yg tertipu atau mereka
Tapi lihatlah bahu bahu tempat bersandar ria
Harus tersengat mentari yg sedang tertawa
Sebab ironi dengan sendawa sendawa
Entah kau yang sakit atau mereka
Aku merasa kau baik baik saja
Tapi lihatlah lutut lutut abdi negara
Harus bergetar menahan letih sepi makna
Pancasila
Kau tetaplah dasar yang lima
Jika empat bukanlah kau rupanya
Cuma banyak dari hamba hamba
Yg karena menghamba empatpun mereka suka
Ketuhanan Yang maha esa
Tapi keuangan menjadi raja yg esa
Banyak penyembah penyembah merasa
Sila pertama hanyalah simbol semata
Kemanusiaan yg adil dan beradab
Orang bilang negaraku banyak pengadilan
Tapi sulit kutemukan keadilan
Mungkin mereka sedang pesta bersama Dilan
Memperagakan kamera kamera peradaban
Persatuan Indonesia
Ini yang lebih berbahaya
Sebab upaya bersatu dari warga
Dianggap mencoba keluar dari satu bangsa
Lalu apa persatuan sebenarnya?
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawatan perwakilan
Bijak dari sosok yg diimpikan
Kini benar benar hanya mimpi saat ketiduran
Kala aku bangun untuk bermusyawah
Solusi telah terbentang bak ladang sawah
Luas melintang manjakan mata
Meski dipan kami semakin sempit terhimpit kata

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Lagi lagi atas nama rakyat Indonesia
Bahkan pembual pembohong penjilat semuanya
Demi perut mereka yg semakin dekat pusara
Memakai jargon ini untuk terus berpura pura
Hingga kepala dan pantat bersatu dalam tanah

Abdurrahman Hasan
Makassar, Maret 2018