Puisi Sang Sultan

Haseki Hurrem Sultan,bernama asli Roxelana atau Alexandra yang merupakan nama lahirnya, adalah istri Sultan Suleiman I dari Kesultanan Utsmaniyah. Lahir di kota Rohatyn, yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Polandia. Pada tahun 1520-an, ia ditangkap oleh bangsa Tatar Krimea dan diperbudak ke Kaffa, lalu ke Konstantinopel. Kemudian, ia dipilih untuk masuk ke harem dan akhirnya menjadi istri sah sang sultan.
Suleiman menikahi Hurrem, dan ini merupakan pelanggaran tradisi panjang Utsmaniyah. Akibatnya, posisi Hurrem menjadi semakin kuat, dan pada akhirnya Selim II, salah seorang putranya yang menjadi penerus tahta kerajaan Turki Utsmaniyah.

Lukisan Hurrem Sultan Istri Sultan Sulaiman (portalsatu)

Pengaruh Hurrem di istana Topkapi kemudian terus menguat. Dengan melahirkan enam anak, yaitu Putri Mihrimah, Selim II, Sehzade Bayezid,Sehzade Cihangir ,Sehzade Mehmed, dan Abdullah. Dalam perjalanan pengaruh Hurrem sangat luarbiasa bahkan terhadap kebijakan pemerintahan pun dia pernah berinisiatif mengambilnya disaat sang sultan sedang melakukan ekspedisi menaklukan wilayah barat (Eropa), tercatat dalam sejarah ,Haseki Hurrem Sultan pernah membantu penderitaan rakyat Polandia yang sedang mengalami paceklik dan meminta bantuan kepada Ottoman.

Kecintaan sang sultan terhadap istrinya juga sangat luarbiasa, dia sering menulis puisi untuk istri tercintanya dengan nama pena Muhibbi, selain seorang raja yang hebat dan kekuasaannya yang meliputi tiga benua, Sultan Sulaiman yang berjuluk Al kanuni atau pembuat undang-undang adalah seorang ahli sastra yang punya karya fenomenal. Salahsatu adalah puisi yang dia tulis dan akhirnya dia bacakan menjelang ajal istrinya Hurrem.


Ini adalah puisi yang ditulis untuk istrinya Hasseki Hurrem Sultan, yang penulis kutip dari berbagai sumber.

"Takhta di ceruk kesepianku, kekayaanku,cintaku, cahaya bulanku. Temanku paling tulus, kepercayaanku, keberadaanku, sultanku, satu-satunya cintaku.Yang terindah di antara yang indah… Musim semiku, cinta kebahagiaanku, siang hariku, kekasihku, daun tertawa… tanamanku, manisku, mawarku, satu-satunya yang tidak membuatku menderita di dunia ini …Istanbulku, Caramanku, bumi Anatoliaku Badakhshanku, Baghdadku, dan Khorasanku
Wanitaku dalam rambut yang indah, cintaku pada alis yang indah, cintaku dalam mata penuh kenakalan…
Aku akan selalu menyanyikan pujian untukmu
Aku, kekasih hati yang tersiksa, Muhibbi dalam mata yang penuh air mata, aku senang”

Sesuai dengan catatan sejarah Ottoman, jasad Hurrem yang meninggal pada 15 April 1558 dikebumikan di kawasan Suleymaniye Mosque, istana Topkapi Konstantinopel.

Nur Muhammad Al Amin


February 06, 2018 - tanpa komentar

0 komentar untuk Puisi Sang Sultan.